Dear Ear #part1

Tidak pernah terbayang kalau Saya akan mengalami tuli secara mendadak. Tapi ini benar-benar terjadi … Berawal dari Januari 2015, saat itu rencananya Saya akan menemani anak perempuan saya yang berumur 9 tahun untuk snorkling dan diving di Pulau Pramuka. Dari rumah kami berangkat menuju dermaga di ancol untuk naik kapal cepat menuju Pulau Pramuka. Angin memang berhembus kencang, ya namanya juga di atas kapal… Saya yang memang hobby masuk angin hayna berharap agar Saya tidak mengalami masuk angin. Turun dari kapal, Saya merasa kuping sebelah kanan Saya seperti yang kemasukkan angin, tersumbat. Saat itu saya berfikir kalau Saya masuk angin, setelah minum tolak angin pasti beres. Sesampainya di vila, dan minum tolak angin telinga kanan Saya tidak berangsur baik malah disertai dengan muntah dan vertigo. Saat itu Saya masih berfikir kalau Saya terkena masuk angin berat. Batal sudah rencana Saya untuk ikut snorkling dan diving. Saya hanya terkapar tak mampu membuka mata karena semua terasa berputar. Dari Pulau Pramuka Kami tidak langsung pulang ke rumah di Jakarta, tapi langsung menuju Bandung karena saat itu masih edisi libur sekolah, dan anak Saya ingin menghabiskan sisa libur di rumah nenek. Sampai di Bandung, Saya lalu ke rumah sakit untuk memeriksakan telinga kanan saya yang masih belum bisa mendengar. Dokter THT pagi itu belum ada, Saya pun diperiksa oleh dokter umum yang akhirnya menelpon dokter THT untuk memberi saran apa yang harus Saya lakukan. Dokter di rumah sakit bilang kalau Saya harus segera di rawat inap karena untuk kasus seperti ini sudah masuk area kegawatan medis. Agak kaget juga, masa sih? Ini kan cuma masuk angin?! Atas saran dari dokter THT, saya harus melakukan tes audiometri untuk melihat setuli apa saya. namun karena di Rumah Sakit Hermina tidak ada alat tes tersebut maka saya harus melakukannya di tempat lain. Akhirnya Saya berobat kembali dan langsung menemui dokter THT di rumah sakit lain. Dari hasil tes audiometri yang dilakukan, telinga kanan saya matot alias mati total alias tidak bisa mendengar 100%. Astaghfirullah … ternyata serius yaa… Dokter berkata, kalau Saya mengalami Meniere. Penyakit ini adalah gangguan yang terjadi pada bagian dalam telinga yang mengakibatkan pusing (vertigo), mual (muntah), suara berdenging, tidak bisa mendengar dan rasa penuh dalam telinga. Saat itu dokter meresepkan beberapa obat, salah satunya adalah obat untuk mengeluarkan kelebihan cairan dari dalam telinga.Ā Rasa penuh dalam telinga memang berangsur hilang, tapi telinga kanan Saya masih belum bisa mendengar apa pun šŸ˜¦ Saat kembali ke Jakarta, Saya lalu berobat ke Rumah Sakit THT Proklamasi. Banyak tes yang harus saya lakukan. Dokter menyarankan agar Saya mencoba terapi Hiperbarik. Di akhir sesi konsultasi, dokter berkata,”ikhlaskan ya bu …” . Jleb… ini beneran nih kuping saya bakalĀ engga bisa denger lagi?! Saya coba cari alternatif dokter THT lain, berharap ada diagnosa lain yang lebih baik. Saya pun menemui dokter THT di RSPP daaaan …. hasilnya tetap sama. Dari hasil CT Scan dan MRI yang saya lakukan, tidak ada yang “salah” dengan organ telinga Saya. Dokter bilang, penyakit seperti ini banyak terjadi tapi tidak diketahui penyebabnya. Hampir setiap minggu saya ke RSPP berharap ada perbaikan untuk kuping Saya, tapi hasilnya nihil. Dengan penuh simpati dokter berkata (kembali) untuk ikhlas. photo-2

foto: Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP)

Advertisements